Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2021

Menyuluh dari Jiwa Kartini

Setiap 21 April kita diingatkan untuk mengenang Raden Adjeng Kartini. Peringatan ini mengacu pada perjuangan-perjuangan R.A. Kartini di masa lalu yang dipercaya membawa dampak transformatif bagi Indonesia saat ini. Ia membuka tabir belenggu budayanya yang sangat patriarkal. Ia juga mengusahakan pendidikan bagi kaum-kaum terpinggirkan. Reaksi Kartini terhadap situasi kehidupan di sekitarnya kala itu diungkapkan lewat menulis surat-surat kepada sahabatnya, Rosa Abendanon. Kompilasi surat-surat Kartini kemudian dijadikan buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang atau dalam bahasa Belanda Door Duisternis tot Licht.  Raden Adjeng Kartini (Sumber: Google Photos) Mengenang Kartini adalah sebuah upaya untuk merefleksikan perjuangannya menciptakan kemanusiaan yang lebih baik. Ia menentang ide superioritas gender tertentu. Secara hakiki, setiap manusia adalah sama di hadapan kemanusiaan. Semangat kesetaraan ini harus menyerap dalam semua aspek baik politik, ekonomi, dan sosial.  H...

Menjelajahi Kota Labuan Bajo dengan Walking Tour

Gerimis kecil mengguyur Labuan Bajo pada pagi 8 April 2021. Rombongan tour sudah berkumpul di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kampung Ujung. Tak berselang lama, butiran air hujan itu segera menjauh dan pelan-pelan hilang. Para penjual ikan dan pembeli telah memenuhi TPI sejak subuh. Kami dan rombongan berkumpul di sisi kanan gerbang.  Para peserta Walking Tour mendengarkan narasi dari pemandu lokal TPI menjadi titik kumpul sekaligus tempat pertama dalam program Walking Tour Jelajah Kota Lama Labuan Bajo. Di dalam jalur ini terdapat setidaknya lebih dari 10 titik yang akan dilalui peserta tour. Narasi dan cerita di setiap titik akan dijelaskan oleh pemandu.  Titik-titik singgah itu di antaranya adalah Jalan Reklamasi, Jalan Mutiara yang di dalamnya termasuk GMIT Gunung Zalmon, Gereja Katolik Stella Maris, dan Masjid Nurul Falaq. Lalu kemudian Jalur Protokol yakni Jalan Soekarno Hatta, Pelabuhan Pelni, La Pirate, Artomoro Restaurant, Losmen Mutiara, dan Losmen Bajo serta beberap...

Target Inkubasi Tahap II Subsektor Penerbitan: Melanjutkan Pengerjaan Tahun 2020

Aksilarasi (Aksi, Selaras, Sinergi) Labuan Bajo 2021 subsektor penerbitan telah memasuki inkubasi tahap II. Kegiatan ini akan berlangsung selama 2 pekan mulai tanggal 6 April sampai 19 April 2021. Inkubasi tahap II ini dihadiri oleh para penulis, editor, dan tim kreatif yang berasal dari Labuan Bajo, Lembor, dan Ruteng. Hadir dalam pembukaan kegiatan inkubasi tahap II Ibu Linda Suryani selaku Koordinator Industri Kreatif Penerbitan Kemenparekraf, Bapak Agustinus Rinus Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat, dan Ibu Shana Fatina, Direktur Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo - Flores. Peserta Inkubasi II foto bersama dengan seluruh tim. Ibu Linda menegaskan, kegiatan ini bertujuan untuk meneruskan pengerjaan penulisan buku dan peta yang telah dimulai sejak tahun lalu. Ia mengharapkan agar seluruh peserta mengikuti proses selama dua pekan ke depan dengan serius.  "Semoga suatu saat banyak karya dari para peserta yang turut mempromosikan kekayaan dan keindahan Labuan Bajo," pun...

Kekasih Menulis Laut yang Sepi

Malam itu laut memenuhi pandangan kami. Luas laut adalah rahasia yang sebagiannya ditemukan para nelayan pesisir. ‘Nama laut itu adalah laut kesepian,’ katamu seperti berbicara sendiri. ‘Kenapa kesepian?’ Seolah pertanyaan itu keluar dari keingintahuan yang tidak beralasan. ‘Ia kesepian, sebab sungai tak kembali ke hulu alirannya.’ ‘Kan laut menguap jadi hujan?’ sanggahku. ‘Ia, tapi ia tetap rindu perjalanan-perjalanan aliran yang hanya sekali terjadi dalam hidupnya. Sekali berada di laut, kesepian adalah nasib yang pasti.’ Lama kami berbicara tentang laut. Tentang laut yang indah bila bulatan mentari mendaki di ujung cakrawala di pagi hari dan tenggelam di cakrawala barat saat senja. Tapi, laut juga menyimpan dendam yang hitam. Amukannya melenyapkan nyawa manusia. Ribuan nyawa tersapu badai tsunami. Ia menyebutnya sebagai paradoks laut. Ia menggetarkan sekaligus menghancurkan. Kontras yang mustahil ditampik. Laut itu semakin sepi di hadapan kami.    ‘Nama laut it...

Konsistensi Terhadap Makna Bahasa

  Para pejabat publik, ketika menanggapi suatu persoalan seringkali mengeluarkan kalimat yang ‘berani’ dan juga kadangkala instan sebagai jawaban. Unsur ‘berani’ dan instan dalam ucapan mereka dapat dibaca sebagai suatu mekanisme mujarab melonggarkan ruang tekanan pertanyaan dari media atau apa saja.  Kapolri Jenderal Polisi, Drs. Sutarman dalam kunjungannya di Kabupaten Rote Ndao (16/12/2014) menanggapi kasus Human Trafficking yang masih panas di NTT. Tanggapan sang Kapolri itu ditulis menjadi judul berita dalam Harian Pos Kupang (17 Desember 2014) yakni “Sutarman Pidanakan Pejabat Polri.” Pernyataan sang Kapolri ini sangat berpengaruh terhadap masyarakat NTT yang sedang dilanda prahara penjualan manusia. Persoalannya adalah sejauh mana konsistensi para pejabat publik kita untuk memaknai pernyataan yang diucapkan sehingga pernyataan mereka tidak hanya sebagai mekanisme pelarian belaka?  Sumber foto: https://bogabogasvb.com/wp-content/uploads/2020/04/membuat-lukisan-abst...

Jacket Baru untuk Fransiska

Selembar kertas segi empat warna putih berubah jadi jimat di tanganku. Kertas ini adalah tiket pesawat yang akan membawaku ke Kupang sore ini Seorang kawan menceritakan pengalamannya ketika ia untuk pertama kalinya datang ke kota Kupang. Sebelum tubuhnya yang kurus itu tercemplung ke kota karang itu, Kupang hanyalah sebuah kata yang dipenuhi impian: manakala suatu saat nanti ia bisa datang ke sana.   Pergi atau datang ke Kupang katanya adalah seperti rencana pergi ke planet lain yang dibaluri sejuta kemustahilan. “Apalagi pergi dengan naik pesawat...” ungkapnya dengan ditutupi sejumput senyum bangga di sekujur bibirnya.  Kau tahu, aku hanya ingin membagikan kepadamu cerita kawan yang satu ini. Aku pun tidak ingin menambah sekalimat pun yang berusaha untuk merekayasa jalan pengalamannya selama ia datang ke Kupang. Karena aku tahu bahwa persahabatan itu harus dirawat dengan kejujuran. Aku tidak ingin masuk penjara atau neraka hanya gara-gara mencatut nama teman sendiri kepadam...