Malam itu laut memenuhi pandangan kami. Luas laut adalah rahasia yang sebagiannya ditemukan para nelayan pesisir. ‘Nama laut itu adalah laut kesepian,’ katamu seperti berbicara sendiri. ‘Kenapa kesepian?’ Seolah pertanyaan itu keluar dari keingintahuan yang tidak beralasan. ‘Ia kesepian, sebab sungai tak kembali ke hulu alirannya.’ ‘Kan laut menguap jadi hujan?’ sanggahku. ‘Ia, tapi ia tetap rindu perjalanan-perjalanan aliran yang hanya sekali terjadi dalam hidupnya. Sekali berada di laut, kesepian adalah nasib yang pasti.’
Lama kami berbicara tentang laut. Tentang laut yang indah bila bulatan mentari mendaki di ujung cakrawala di pagi hari dan tenggelam di cakrawala barat saat senja. Tapi, laut juga menyimpan dendam yang hitam. Amukannya melenyapkan nyawa manusia. Ribuan nyawa tersapu badai tsunami. Ia menyebutnya sebagai paradoks laut. Ia menggetarkan sekaligus menghancurkan. Kontras yang mustahil ditampik. Laut itu semakin sepi di hadapan kami.
‘Nama laut itu adalah laut kesepian,’ katamu seperti berbicara sendiri. ‘Kenapa kesepian?’ Seolah pertanyaan itu keluar dari keingintahuan yang tidak beralasan. ‘Ia kesepian, sebab sungai tak kembali ke hulu alirannya.’Kehidupan berdenyut di pesisir pantai. Para nelayan yang hendak melaut. Nyala obor yang bimbang ditiup angin, seperti mengungkapkan kebimbangan para nelayan yang hendak mencelupkan nasibnya di laut kesepian. Kesepian adalah perasaan yang ingin bebas. Begitu kau definisikan kenyataan di atas samudera itu. Aku memang paling buta bila disuruh mendefinisikan sesuatu yang absurd. Kau memiliki semacam indra yang lebih banyak dari yang kupunya.
Tak semua yang kau katakan tercover dalam kamus pemahamanku. Ia begitulah. Setiap pribadi dianugerahi kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang memiliki lebih dan ada pula yang mengalami kekurangan. Dunia diciptakan dengan dualitas seperti itu agar manusia saling melengkapi dan saling menerima. Hanya ini batas pemahamanku.
‘Perasaan yang ingin bebas seperti apa?’ tanyaku ingin tahu. Aku sebenarnya ingin ia berbicara lebih banyak malam ini.
![]() |
| Sumber foto: https://www.wallpaperbetter.com/id/hd-wallpaper-nvigr |
Tapi ide tentang kebebasan itu belum kupahami bila substansinya adalah kesepian. Bukankah lebih baik merasa sepi daripada lari dari kesepian? Seperti laut ini, sepanjang abad menjadi sepi. Tidak ingin ia bermigrasi ke samudera yang lain.
Kesepian adalah beban yang dipikul hati. Hati harus dibebaskan dari beban itu. Memendam sepi adalah memelihara tangisan yang tidak bersuara. Luka tapi tidak berdarah. Apakah tidak lebih baik bila sebaliknya yang terjadi: sepi pergi, suara tangisan membahasakan kepedihan, dan darah adalah tangisan dari luka?
Baca juga: Jacket Baru untuk Fransisca
Kesepian adalah perasaan yang ingin bebas. Ia adalah laut yang ingin bertsunami. Ia adalah terjangan kematian. Namun ia juga adalah tanda. Bahwa perubahan akan terjadi setelahnya. Keseimbangan tercapai, langit menjadi bersih, hutan menumbuhkan tunas baru. Ia adalah kerja alam semesta yang harmonis. Seperti beragam instrumen musik yang dimainkan dengan sempurna dalam satu lagu. Harmonis. Kesepian adalah perasaan yang mendambakan harmonisasi.
Laut semakin sepi. Di langit, gemintang berlomba mengalahkan cahaya bulan purnama bulan maret. Siluet obor nelayan di atas laut, bercahaya seperti bintang yang jatuh. Jatuh di hatiku. Atau di hatinya. Riak gelombang menguntit jemari kakinya. Datang dan pergi, muncul dan menghilang.
Sepi hadir di antara kami. Saat seperti itulah yang membuat kesadaranku menyala. Bahwa aku bersyukur bisa mencintai perempuan sehebat Wanda. Hanya lelaki beruntung yang mendapatkan wanita secantik dan sehebat dia. Dan aku menjaga laut yang sepi di matanya. Seperti pahlawan yang mempertahankan pesisir pantai ini dari gempuran alien.
Wanda, wanita yang memiliki jiwa pengelana, suka pada laut, di kepalanya tumbuh ribuan pohon yang nama-namanya ia ciptakan sendiri. Ada pohon zigar, pohon lora, pohon muar, pohon lar, pohon lungun, pohon narni, dan lain-lain yang tidak lagi kuingat. Aku sesekali ingin tersesat di dalamnya. Pertama kami pacaran, ia menyuruhku untuk menamai musim-musim berbeda yang terbit di matanya. Misalnya, saat ia memejamkan mata dan membukanya kembali, ia bertanya: musim apa yang kamu lihat barusan? Semakin banyak pejam, semakin banyak musim dengan berbeda nama pula.
Aku hanya bisa menyebut musim yang diajarkan guru ilmu pengetahuan alam sekolah dasar yakni musim hujan, musim kemarau, musim gugur, dan musim semi. Selain itu tidak ada. Tapi bagi Wanda, di matanya tersembunyi musim-musim yang belum dikonvensi ilmu pengetahuan. Dan ia bilang, ‘kamu tidak akan percaya bila saya menyebutkan musim-musim itu,’
Cahaya obor nelayan itu semakin menjauh. Permukaan laut bergetar di tiup angin malam. Wanda meringkuk dingin. Aku membuka jacket Real Madrid-ku dan kubungkus punggungnya. “Ayo kita pulang, Ri”, katanya tiba-tiba. Aku mengiyakan. Kami meninggalkan empat jejak kaki di atas pasir yang selonjor ke arah laut. Laut tetap sepi saat kami kembali. Wanda memeluk erat tubuhku di atas sepeda motor miliknya yang kukendarai. ‘Aku tidak menyesal punya kekasih yang akan menulis tentang laut yang sepi’ bisiknya pelan.
Ah, Wanda, aku lebih bahagia punya kekasih seaneh kamu, yang memiliki bergudang-gudang metafora. Realitas kehidupan bila masuk di otakmu menjadi mosaik indah yang keping-kepingnya bila dikumpulkan akan menjadi karya filosofis. Tapi aku tetap tidak memahami kamu. Mungkin itu yang membuat aku menganggap kamu seperti sebuah kitab kehidupan yang harus aku singkap bertahap-tahap. Dan setiap tahap pencarian itu, cintalah yang mendorongnya.
***
Akan tetapi, siapa yang mampu menolak kepedihan? Kepedihan adalah cinta yang keruh. Hingga para kekasih selalu nekat bunuh diri dua kali dalam hidupnya. Pertama, bunuh diri saat sang kekasih pergi bersama orang lain. Kedua, bunuh diri saat kekasih pergi tanpa pernah mengenal jalan pulang.
Kisah ini aku tulis setelah Wanda pergi ke laut dan tidak pernah kembali. Setiap kali aku melihat laut, sepi selalu mengerubuti relung hatiku seperti kawanan semut yang menggempur butiran gula pasir. Aku menulisnya agar ia tidak menyesal punya kekasih yang hanya bisa menulis laut yang sepi. Tapi lebih dari itu, aku menuliskan kisah ini untuk membebaskan perasaanku dari wajah manisnya yang telah ditelan laut yang sepi. Meskipun, musim dan hutan di mata dan kepalanya menjadi musim kehidupanku juga. Selamat jalan Wanda, pulangkan rindu-rinduku.*
Cerpen ini diterbitkan di Flores Pos 17 Maret 2015.

Komentar
Posting Komentar