Ini adalah catatan reseptif dan apresiatif setelah mengikuti Talk Show daring bersama beberapa komunitas literasi di Nusa Tenggara Timur di bawah tema “Budayakan Literasi, Cerahkan Masa Depan”. Kegiatan daring ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun perdana media Ngkiong.com; sebuah media daring yang mewadahi buah pikiran inspiratif anak muda yang peduli pada nilai luhur yang hidup dalam masyarakat. Media ini berpusat di kota Ruteng - Manggarai.
Ada 5 komunitas yang membagikan pengalaman mereka selama berkomunitas di wilayah masing-masing. Komunitas itu antara lain Teras Baca Ile Napo dari Solor, NTT School dari Bajawa, Sekolah Alam Dyatame dari Sumba Barat Daya, Rumah Baca Aksara dari Ruteng, dan Ngkiong.com sendiri. Diskusi dipandu oleh Arsy Juwandi; guru di Seminari Pius XII Kisol.
Keresahan dan Kegelisahan: Embrio Komunitas
Narasumber dari masing-masing komunitas menceritakan alasan mereka membangun komunitas atas dasar keresahan dan kegelisahan melihat kondisi dan situasi sosial. Ruang sosial, terutama untuk anak-anak, kurang menyediakan kesempatan bertumbuh yang optimal. Keadaan ini dipicu oleh kesempatan belajar di sekolah yang kurang kondusif, tingkat ekonomi keluarga yang rendah, dan ketidakadilan sosial yang terus melebar. Komunitas-komunitas ini pun lahir dan mencoba memberikan solusi untuk masalah-masalah ini.
Baca juga: Personifikasi Komodo dalam Ajang Miss Universe 2020
Kesadaran yang revolusioner dari pada pendiri komunitas ini tentunya memberikan dampak yang baik bagi generasi manusia beberapa tahun ke depan. Dion Dani dari Teras Baca Ile Napo meyakini bahwa dengan kegiatan literasi, anak-anak akan memiliki masa depan yang lebih cerah. Senada dengan itu, Ardin Liko dari NTT School, sangat yakin bahwa dengan kemampuan bahasa Inggris, public speaking, dan penguasaan komputer –tiga kegiatan inti di sekolah ini - anak-anak bisa bersaing dengan anak-anak di tempat lain.
Untuk menggapai impian-impian ini, Empry Magi dari Sekolah Alam Dyatame membangun komunitasnya untuk mempersiapkan anak-anak lebih awal dengan belajar bahasa serta keterampilan personal dan sosial yang lain. Hanya di dalam komunitas dengan semangat kolektif, Luis Karu yakin bahwa anak-anak dan generasi muda bisa menjadi agen perubahan untuk masyarakatnya.
Memberi Solusi untuk Mengurai Masalah
Para pendiri komunitas ini melihat masalah sebagai peluang untuk menentukan arah kegiatan. Dengan kegiatan yang intens dan bervariasi anak-anak dilatih untuk menguasa bidang-bidang penting dalam kehidupan sosial. Menguasai bahasa Inggris, menerapkan pola hidup sehat, peduli terhadap masalah lingkungan dan sampah, dan hal-hal lain merupakan isu-isu yang sangat actual untuk dijadikan bahan belajar di komunitas.
Dalam perjalanan kegiatannya, komunitas-komunitas ini kadang menghadapi hambatan ringan dan berat seperti kekurangan dana, pembagian waktu, merekrut relawan, dan meyakinkan lingkungan masyarakat akan manfaat positif dari kegiatan komunitas. Namun, seiring berjalanannya waktu, komunitas ini bermetamorfosa dan menemukan teknik sendiri untuk melintasi hambatan yang ada.
Rancang dari Bawah
Kegiatan-kegiatan komunitas yang sifatnya nirlaba ini menjadi fenomena transformatif di tengah masyarakat saat ini. Misi mereka sangat mulia yakni mengusahakan sebuah masyarakat yang sejahtera di masa depan. Misi ini mereka kerjakan dari bawah, bergerak secara horizontal tepat di titik lemah kebutuhan manusia dalam masyarakat. Ketika pemerintah bermain di tataran kebijakan, komunitas-komunitas ini langsung merancangnya di tengah realitas sosial. Mereka menjawab berbagai soal dan kebutuhan dengan aksi.
Baca juga: Kekasih Menulis Laut yang Sepi
Harapannya komunitas-komunitas ini dapat bekerja secara kolaboratif agar mencapai perubahan yang lebih luas dan tak segmentatif. Selain itu, kiranya komunitas ini mengakomodasi segala latar belakang anak dan tidak menjadi kelompok yang elitis di tengah masyarakat. Panjang umur komunitas literasi!*


Komentar
Posting Komentar