Langsung ke konten utama

Soft Power dalam Budaya Pop Korea

Istilah soft power dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan politik Harvard, Joseph Nye. Soft power adalah kekuatan tak terlihat dari sebuah negara yang diungkapkan lewat citranya ketimbang kekuatannya. Istilah ini sering dibenturkan dengan Hard Power sebagai antagonisnya yang mengedepankan kekuatan militer dan paksaan ekonomi. Korea Selatan sukses mengadopsi teknik soft power ini dalam mengkampanyekan budayanya ke seluruh penjuru dunia.

Tidak bisa dipungkiri lagi tingginya minat dunia terhadap K-pop lewat serial drama Korea. Mulai dari Winter Sonata (2002), Boys Before Flower (2009) hingga yang paling kontemporer Space Sweepers (2021) telah ditonton jutaan penggemar drakor di Asia, Amerika, dan Eropa. 

Source: Google image

Melalui film, budaya Korea diperkenalkan kepada dunia berikut fashion dan kecanggihan teknologi citranya. Korea Selatan yakin, melalui Hallyu –gelombang budaya popular Korea –mereka mampu menguasai dunia melalui citra. Karena itu, sejak 1994 mereka giat memasang kabel jaringan internet di seluruh negeri dengan dana pemerintah, juga membangun sistem jalan tol dan rel nasional. Mode transportasi baru ini menjadi hal yang belum pernah ada sebelumnya di negeri Korea. 

Mode ini bersifat multibahasa, tak terhalang, cuek pada kelas dan hierarki, dan tidak terhalang samudera. Pada titik inilah Korea bangkit melalui teknologi. Yang paling penting bagi Korea dalam penerapan teknologi ini adalah bukan muatan virtual yang masuk dari luar, tetapi mengirim keluar segala yang penting yang dimiliki Korea untuk dikenal dunia.

Fenomena Gangman Style yang mendunia tahun 2012 adalah salah satu puncak dari penyebaran budaya Pop Korea lewat musik. Psy, sang penyanyi Gangman Style mengakui lagu ini adalah lagu pertama Korea yang menembus dunia musik internasional. Jelaslah bahwa melalui musik dan film, budaya Korea telah menjadi idaman masyarakat dunia.  

Baca juga: Menjelajahi Labuan Bajo dengan Walking Tour

Apa yang bisa kita belajar dari Korea dengan soft powernya? Indonesia dan Korea Selatan telah menjalin hubungan bilateral sejak tahun 1966. Kerja sama bidang ekonomi dan infrastruktur telah dilakukan sejak saat itu. Di tahun 2020, relasi bilateral ini semakin diperkuat melalui komitmen kerja sama mewujudkan hubungan strategis 2.0 antara kedua negara.

Korea Selatan menginginkan konektivitas yang efektif dengan cara membuka kantor konsulat di Bali agar lebih dekat dengan Lombok, NTB, dan NTT untuk pelayanan diplomasi.  Salah satu goalnya adalah untuk meningkatkan kunjungan turis Korea ke Indonesia.  

Melalui hubungan yang baik ini, Indonesia dapat bekerja sama dengan Korea Selatan untuk saling belajar teknologi citra dan budaya. Kesuksesan Korea tentu saja tidak berangkat dari kekosongan konsep. Melalui konsep tertentu Korea dapat sukses menguasai dunia dengan soft power. Isi konsep mereka itulah yang bisa kita pelajari untuk kemajuan Indonesia, terutama dalam bidang teknologi.*

 

Referensi: Euny Hong. 2014. Korean Cool. Bandung: Penerbit Bentang. 

Tulisan ini pernah diterbitkan di Kaskus.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekasih Menulis Laut yang Sepi

Malam itu laut memenuhi pandangan kami. Luas laut adalah rahasia yang sebagiannya ditemukan para nelayan pesisir. ‘Nama laut itu adalah laut kesepian,’ katamu seperti berbicara sendiri. ‘Kenapa kesepian?’ Seolah pertanyaan itu keluar dari keingintahuan yang tidak beralasan. ‘Ia kesepian, sebab sungai tak kembali ke hulu alirannya.’ ‘Kan laut menguap jadi hujan?’ sanggahku. ‘Ia, tapi ia tetap rindu perjalanan-perjalanan aliran yang hanya sekali terjadi dalam hidupnya. Sekali berada di laut, kesepian adalah nasib yang pasti.’ Lama kami berbicara tentang laut. Tentang laut yang indah bila bulatan mentari mendaki di ujung cakrawala di pagi hari dan tenggelam di cakrawala barat saat senja. Tapi, laut juga menyimpan dendam yang hitam. Amukannya melenyapkan nyawa manusia. Ribuan nyawa tersapu badai tsunami. Ia menyebutnya sebagai paradoks laut. Ia menggetarkan sekaligus menghancurkan. Kontras yang mustahil ditampik. Laut itu semakin sepi di hadapan kami.    ‘Nama laut it...

Jacket Baru untuk Fransiska

Selembar kertas segi empat warna putih berubah jadi jimat di tanganku. Kertas ini adalah tiket pesawat yang akan membawaku ke Kupang sore ini Seorang kawan menceritakan pengalamannya ketika ia untuk pertama kalinya datang ke kota Kupang. Sebelum tubuhnya yang kurus itu tercemplung ke kota karang itu, Kupang hanyalah sebuah kata yang dipenuhi impian: manakala suatu saat nanti ia bisa datang ke sana.   Pergi atau datang ke Kupang katanya adalah seperti rencana pergi ke planet lain yang dibaluri sejuta kemustahilan. “Apalagi pergi dengan naik pesawat...” ungkapnya dengan ditutupi sejumput senyum bangga di sekujur bibirnya.  Kau tahu, aku hanya ingin membagikan kepadamu cerita kawan yang satu ini. Aku pun tidak ingin menambah sekalimat pun yang berusaha untuk merekayasa jalan pengalamannya selama ia datang ke Kupang. Karena aku tahu bahwa persahabatan itu harus dirawat dengan kejujuran. Aku tidak ingin masuk penjara atau neraka hanya gara-gara mencatut nama teman sendiri kepadam...

Rancang Dari Bawah: Membaca Spirit Komunitas Literasi NTT

  Ini adalah catatan reseptif dan apresiatif setelah mengikuti Talk Show daring bersama beberapa komunitas literasi di Nusa Tenggara Timur di bawah tema “Budayakan Literasi, Cerahkan Masa Depan”. Kegiatan daring ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun perdana media Ngkiong.com ; sebuah media daring yang mewadahi buah pikiran inspiratif anak muda yang peduli pada nilai luhur yang hidup dalam masyarakat. Media ini berpusat di kota Ruteng - Manggarai.    Ada 5 komunitas yang membagikan pengalaman mereka selama berkomunitas di wilayah masing-masing. Komunitas itu antara lain Teras Baca Ile Napo dari Solor, NTT School dari Bajawa, Sekolah Alam Dyatame dari Sumba Barat Daya, Rumah Baca Aksara dari Ruteng, dan Ngkiong.com sendiri. Diskusi dipandu oleh Arsy Juwandi; guru di Seminari Pius XII Kisol. Keresahan dan Kegelisahan: Embrio Komunitas Narasumber dari masing-masing komunitas menceritakan alasan mereka membangun komunitas atas dasar keresahan dan kegelisahan me...