Langsung ke konten utama

Dari Labuan Bajo ke Wae Rebo; Dua Hari Bersama Rombongan Binus University

SUATU pagi di bulan Oktober, saya menerima pesan Whatsapp dari Boe Berkelana yang menanyai kesediaan saya untuk handle tour. Memang semenjak datangnya pandemi yang membuat aktivitas wisata kendor, sebagian besar waktu saya mengurus Kawan Bike; sebuah layanan transportasi lokal di kota ini. Mungkin itu yang membuat Boe mengirimi saya pesan whatsapp penuh tanya “Om Put masih mau bawa tamu?”

Saya gembira dengan ajakan itu dan menyatakan kesediaan untuk menghandle tour dari Warisan Flores periode 2 sampai 4 November 2021. Bersama kawan pemandu yang lain; Ken Kaharudin dan Robi Ko’e, kami akan menemani sekitar 48 mahasiswa Bina Nusantara dan beberapa dosen selama tour ke Kampung Waerebo dan Taman Nasional Komodo. Hari-hari pun berlalu hingga tiba di akhir Oktober dan menyambut November dengan penuh semangat.

****

Rombongan Binus University tiba di Labuan Bajo tanggal 1 November 2021. Boe menyambut kedatangan mereka di Bandara Komodo Labuan Bajo. Dalam postingan story whatsapp dan facebook; terlihat Boe melakukan pengalungan dengan syal bermotif tenun Songke saat menyambut kedatangan mereka di Labuan Bajo. 

Penjemputan Rombongan Binus University di Bandara Komodo - Labuan Bajo (Foto: Boe Berkelana)

Kemudian Boe membikin sebuah group whatsapp untuk memudahkan koordinasi dan komunikasi selama tour. Di dalam group itu kami menyepakati beberapa persiapan termasuk jam berangkat dan detail logistic yang dibutuhkan selama perjalanan. Keesokan harinya; tanggal 2 November pagi, kami bertemu dengan group ini di Flamingo Hotel.

Pukul 6:30 pagi, Saya, Boe, Robi, dan Ken bertemu di lobby Flamingo. Empat bus pariwisata sudah menunggu di depan hotel. Kami masing-masing telah diberikan list nama dan nomor bus. Saya di bus 1, Ken di bus 2, Boe di bus 3, dan Roby di bus 4. Tak lama berselang; anggota rombongan itu mulai muncul di lobby. Sembari menunggu semua berkumpul, kami mengecek mobil, membagikan lunch box, dan perlengkapan yang lain yakni air mineral dan obat-obatan.

Saya memegang list nama yang akan mengisi bus 1. Ada sebanyak 15 nama. Sopir kami; Om Nus membantu loading tas dan air mineral. Sementara saya memastikan anggota rombongan untuk menempati bus sesuai dengan list. Saat semua menempati kursi dalam bus; saya membacakan nama-nama dalam list. Terdapat 14 orang yang mengonfirmasi kehadirannya saat saya mengecek. Salah satu di antara mereka tidak jadi datang karena alasan tertentu. 

Sesaat kemudian, saya memperkenalkan diri dan sopir –Om Nus – serta menginformasikan rute perjalanan hari ini. Destinasi yang akan kami tuju adalah Wae Rebo dengan estimasi waktu tempuh 3 sampai 4 jam. Bus 4, 3, dan 2 mulai bergerak melintasi jalur yang baru diaspal di Kampung Air. Kami meninggalkan lobby Flamingo, AC mobil dinyalakan membuat udara dalam mobil sedikit lembab. 

Tim Guide dan driver (Foto: Warisan Flores)

Om Nus mengendalikan bus kami hingga kendaraan itu pelan-pelan meninggalkan keriuhan pagi kota Labuan Bajo. Pemandangan di luar mobil telah diganti benda-benda yang lebih variatif; pemukiman warga, bukit-bukit kecil, areal persawahan serta pepohonan hutan. Saya memberitahu para peserta tour bahwa sepanjang 1,5 jam ke depan, rute perjalanan ini akan berkelok-kelok karena melewati lembah dan bukit. Dari Nggorang sampai Cekonobo pendakian akan cukup ekstrim sehingga perlu mengatur posisi duduk dengan baik.

Saya mengecek waktu dan menunjukkan pukul 9 pagi. Bus kami melaju sedikit kencang membelah persawahan Lembor yang gersang. Areal persawahan itu membentang luas di kiri dan kanan Jalan Ruteng – Labuan Bajo. Lembor sudah dikenal sebagai lumbung pagi sejak tahun 1970an. Kala itu secara gotong royong masyarakat membuka irigasi sehingga areal ini menjadi salah satu daerah pengembangan persawahan terbesar di Manggarai Raya. 

Setelah melewati perswahan Lembor, saya memperkenalkan Malawatar sebagai ibukota Kecamatan Lembor. Ada beberapa warung Padang; tempat bakso, serta rumah makan kecil di Malawatar. Selain itu, ada pasar rakyat yang menjual kebutuhan rumah tangga, toko bahan pangan pokok serta toko bangunan. Tak lupa saya menunjukkan Puskesmas, apotik, bank, dan ATM. Sebagai tempat perhentian menuju Wae Rebo, Malawatar sudah memiliki tempat-tempat ini yang mungkin  dibutuhkan oleh wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan.

Bus kami melaju terus. Kami memutar ke kanan setelah Puskesmas Lembor. Ada plang arah yang menuliskan Nangalili. Ini adalah rute singkat dari Labuan Bajo menuju Wae Rebo. Sebelumnya, rute menuju Wae Rebo melewati Bea Pela dan selanjutnya akan melintasi Kampung Adat Todo. Tetapi setelah jalanan rute pantai selatan ini diperbaiki, dari Labuan Bajo mobil wisata akan melewati Nangalili, Pantai Mberenang, Repi hingga tba di Dintor. Rute ini menampilkan pemandangan pantai di kanan dan bebukitan di sisi kiri. 

Ada pohon kesi atau kudo di sepanjang jalan. Setelah melewati Repi, keempat bus berhenti di pinggir jalan. Rombongan diarahkan ke pantai untuk meregangkan badan sambil menikmati pemandangan. Ombak menerpa bibir pantai berpasir putih. Di bagian barat ada ceruk yang melengkung ke laut sedangkan di tepi timur ada tebing bebatuan yang menopang daratan. Saya menginformasikan jika perjalanan menuju Wae Rebo masih membentuhkan sekitar 1 sampai 2 jam ke depan.

Boe, Ken, dan Roby mengingatkan rombongan untuk segera kembali ke bus masing-masing. Mereka juga memastikan agar tidak ada anggota rombongan atau barang yang tertinggal. Setelah semua masuk bus, perjalanan dilanjutkan. Puncak Pulau Mules nampak sangat jelas di sisi kiri. Saya pernah mendengar ceritera warga di Dintor bahwa Mules berarti cantik. 

Dari kejauhan pulau ini membentang membentuk tubuh perempuan yang sedang tidur terlentang. Saya pun menceritakan hal yang sama kepada rombongan di bus 1. Selain pemandangan pulau Mules, jalur ini memiliki garis pantai yang eksotis. Kombinasi antara pantai berpasir dan berbatu menciptakan pergantian warna putih dan hitam.

Kami tiba di Dintor. Bus memutar ke kiri dan mulai memasuki rute yang sedikit menanjak menuju Denge. Ada kebun, sawah, serta rumah-rumah warga di kiri dan kanan jalan. Tiba di Denge kami menuju ke rumah Om Blasius. Keempat Bus akan diparkir di penginapan Om Blasius, selanjutnya rombongan menggunakan motor ojek untuk menuju ke pos 1. Rombongan turun dari bus dan mempersipakan perlengkapannya untuk segera naik ojek. 

Setelah makan siang selesai, kami bersiap-siap menuju pos 1 dengan jasa ojek lokal dengan harga Rp 50.000 per orang. Anggota rombongan bus 1 berangkat lebih dahulu dengan menggunakan 15 motor. Perjalanan menuju pos 1 melewati beberapa tanjakan ekstrim. Kami mengingatkan agar pengendara motor mesti berhati-hati. Setelah jasa ojek dibayar di pos 1, kami segera mencicil rute hiking menuju Wae Rebo dengan estimasi waktu 3 sampai 4 jam perjalanan. Waktu menunjukkan pukul 13.35 WITA. Kami akan tiba di kampung Wae Rebo kira-kira pukul 17:00. 

Kami berjumpa dengan warga dan beberapa pekerja yang sedang mengerjakan jalur menuju Wae Rebo. Langit cerah namun jalur itu cukup licin karena hari sebelumnya hujan. Saya mengingatkan agar tetap jalan hati-hati dan rileks. Minum air seperlunya dan berisritahat di tempat yang aman bila tubuh lelah. Di bawah rindang pohon kami terus berjalan sambil mendengarkan kicauan burung hutan. 

Kami terus menyusuri rute sambil bercerita serta menyemangati yang lelah. Dua jam berlalu, kami pun tiba di pos 2. Dari pos ini kami melihat ke arah lembah dengan leluasa. Kabut pun mulai terlihat merayapi pucuk-pucuk pohon. Bila telah tiba di pos dua, pendakian yang cukup terjal sudah berkurang. Sisanya adalah penurunan yang cukup gampang untuk dilalui. Kami meninggalkan pos 2 dan melanjutkan perjalanan. Ada gazebo baru berukuran kecil sedang dibangun di pinggir jalan. Beberapa orang berhenti sejenak di situ sekedar mengistirahatkan tubuh. 

Kabut cukup tebal di pos 2 (Foto Arie Putra)
 

Rute penurunan kami lalui dengan pelan. Tak selang berapa lama, terlihat ada kebun kopi warga Wae Rebo. Biji-biji kopi di kebun itu masih muda. Ada sebagiannya lagi masih berbunga. Kopi Wae Rebo sangat digemari oleh para wisatwan yang berkunjung. Tak jarang Kopi Wae Rebo dijadikan oleh-oleh untuk wisatawan. Setelah melewati kebun warga itu, kami tiba di pos 3. Anggota rombongan lain sudah tiba di pos ini lebih dulu. Di pos ini kita mesti memukul bambo untuk memberi tanda kepada masyarakat bahwa ada tamu datang.

Rombongan kami pun segera menuju ke kampung. Kini penampakan tujuh bangunan rumah adat sangat jelas. Lelah serasa terbayar saat tiba di sini dan merasakan penyambutan hangat warga Wae Rebo. Saya, Robi, dan Ken berembuk sejenak untuk menyiapkan uang donasi. Kemudian kami bersama rombongan menuju ke rumah utama. Kami diterima tetua adat yang sudah duduk di tiang utama rumah itu. Saya pun mulai menyampaikan niat kedatangan kami dan meminta doa serta perlindungan leluhur selama berada di Kampung Wae Rebo.

Kampung Wae Rebo (Foto Arie Putra)
 

Setelah menyampaikan hal ini, sang tetua adat menyampaikan kembali niat kedatangan kami kepada leluhur dengan menggunakan bahasa Manggarai. Kemudian diterjemahkan oleh salah seorang anak muda yang duduk di sampingnya. Para rombongan dipersilahkan untuk memberikan pertanyaan atau permintaan sebelum menuju ke penginapan. 

Di luar hari mulai gelap, karena itu kami menyudahi prosesi penyambutan dan rombongan segera berangkat ke penginapan. Di penginapan, kami disuguhi kopi khas Wae Rebo. Sembari menyeruput kopi kami menginformasikan jam makan malam serta agenda yang akan kami lakukan setelah makan malam. 

Setelah makan malam selesai seluruh rombongan berkumpul ke salah satu penginapan. Saya, Boe, Roby, dan Ken telah berembuk untuk mengundang para tetua untuk membagikan cerita tentang Wae Rebo kepada rombongan dari Binus University ini. Ada dua orang yang kami undang yakni Bapak Philipus dan Bapak Frans.

Kedua pembicara ini pun hadir di hadapan rombongan. Bapak Philipus bercerita tentang sejarah dan perkembangan Wae Rebo. Tentang bagaimana perjuangan Empo Maro dari Minangkabau sampai tiba di tempat ini dan menamainya Wae Rebo. Sedangkan Bapak Frans berbicara tentang filosofi Mohe Wae Rebo sebagai nilai adat dan spiritual yang menggerakkan mereka untuk memilihara keutuhan dan keaslian Wae Rebo. Pertanyaan-pertanyaan pun disampaikan oleh para dosen dan mahasiswa. Sesi sharing ini menjadi momen transfer nilai dan budaya dari masyarakat Wae Rebo kepala para pengunjung. Di akhir sesi, Bapak Philipus dan Bapak Frans berpesan agar para pengunjung tidak melupakan Wae Rebo.

Setelah sesi sharing dengan Bapak Philipus dan Bapak Frans
 

Setelah sesi sharing selesai, anggota rombongan kembali ke penginapan masing-masing dan segera beristirahat. Esok harinya kami akan meninggalkan Wae Rebo jam 8:30 pagi. Udara malam hari di Wae Rebo sangat dingin. Meskipun dingin, anggota rombongan Binus University dan wisatawan yang lain bertahan di halaman sekitar Compang untuk mengadikan moment. Sementara yang lainnya, langsung beristirahat. 

Pagi-pagi sekali saya bangun. Sebagian besar anggota rombongan telah berada di halaman. Rerumputan masih berembun. Asap halus dari dapur berembus pelan dari atap-atap rumah pertanda bahwa para ibu sudah bangun untuk memasak sarapan pagi. Tak terasa, beberapa jam lagi kami akan meninggalkan kampung di atas awan ini. Para dosen dan mahasiswa memaksimalkan waktu pagi hari ini untuk bertemu dengan beberapa pihak untuk melakukan wawancara. Yang lain lagi, mencari spot foto dari bukit. Benar-benar hari yang menyenangkan berada di Wae Rebo. 

Nasi Goreng Wae Rebo (Foto Arie Putra)

Lalu para pengurus menginformasikan bahwa sarapan telah disiapkan di penginapan masing-masing. Satu per satu kami menyelesaikan sarapan yang tersedia. Menu sarapan adalah nasi goreng dan telur. Setelah selesai, mengingatkan rombongan untuk segera bersiap-siap untuk berangkat. Lalu akhirnya kami berpamitan dengan warga Wae Rebo untuk melanjutkan perjalanan pulang. Sampai jumpa kembali Wae Rebo, tanah Empo Maro!*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekasih Menulis Laut yang Sepi

Malam itu laut memenuhi pandangan kami. Luas laut adalah rahasia yang sebagiannya ditemukan para nelayan pesisir. ‘Nama laut itu adalah laut kesepian,’ katamu seperti berbicara sendiri. ‘Kenapa kesepian?’ Seolah pertanyaan itu keluar dari keingintahuan yang tidak beralasan. ‘Ia kesepian, sebab sungai tak kembali ke hulu alirannya.’ ‘Kan laut menguap jadi hujan?’ sanggahku. ‘Ia, tapi ia tetap rindu perjalanan-perjalanan aliran yang hanya sekali terjadi dalam hidupnya. Sekali berada di laut, kesepian adalah nasib yang pasti.’ Lama kami berbicara tentang laut. Tentang laut yang indah bila bulatan mentari mendaki di ujung cakrawala di pagi hari dan tenggelam di cakrawala barat saat senja. Tapi, laut juga menyimpan dendam yang hitam. Amukannya melenyapkan nyawa manusia. Ribuan nyawa tersapu badai tsunami. Ia menyebutnya sebagai paradoks laut. Ia menggetarkan sekaligus menghancurkan. Kontras yang mustahil ditampik. Laut itu semakin sepi di hadapan kami.    ‘Nama laut it...

Jacket Baru untuk Fransiska

Selembar kertas segi empat warna putih berubah jadi jimat di tanganku. Kertas ini adalah tiket pesawat yang akan membawaku ke Kupang sore ini Seorang kawan menceritakan pengalamannya ketika ia untuk pertama kalinya datang ke kota Kupang. Sebelum tubuhnya yang kurus itu tercemplung ke kota karang itu, Kupang hanyalah sebuah kata yang dipenuhi impian: manakala suatu saat nanti ia bisa datang ke sana.   Pergi atau datang ke Kupang katanya adalah seperti rencana pergi ke planet lain yang dibaluri sejuta kemustahilan. “Apalagi pergi dengan naik pesawat...” ungkapnya dengan ditutupi sejumput senyum bangga di sekujur bibirnya.  Kau tahu, aku hanya ingin membagikan kepadamu cerita kawan yang satu ini. Aku pun tidak ingin menambah sekalimat pun yang berusaha untuk merekayasa jalan pengalamannya selama ia datang ke Kupang. Karena aku tahu bahwa persahabatan itu harus dirawat dengan kejujuran. Aku tidak ingin masuk penjara atau neraka hanya gara-gara mencatut nama teman sendiri kepadam...

Rancang Dari Bawah: Membaca Spirit Komunitas Literasi NTT

  Ini adalah catatan reseptif dan apresiatif setelah mengikuti Talk Show daring bersama beberapa komunitas literasi di Nusa Tenggara Timur di bawah tema “Budayakan Literasi, Cerahkan Masa Depan”. Kegiatan daring ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun perdana media Ngkiong.com ; sebuah media daring yang mewadahi buah pikiran inspiratif anak muda yang peduli pada nilai luhur yang hidup dalam masyarakat. Media ini berpusat di kota Ruteng - Manggarai.    Ada 5 komunitas yang membagikan pengalaman mereka selama berkomunitas di wilayah masing-masing. Komunitas itu antara lain Teras Baca Ile Napo dari Solor, NTT School dari Bajawa, Sekolah Alam Dyatame dari Sumba Barat Daya, Rumah Baca Aksara dari Ruteng, dan Ngkiong.com sendiri. Diskusi dipandu oleh Arsy Juwandi; guru di Seminari Pius XII Kisol. Keresahan dan Kegelisahan: Embrio Komunitas Narasumber dari masing-masing komunitas menceritakan alasan mereka membangun komunitas atas dasar keresahan dan kegelisahan me...