Kampung Cecer di Desa Liang Ndara –Labuan Bajo memiliki pesona alam dan budaya yang kaya. Kemolekan gugus bukit yang didandani pepohonan seakan merebut butir hujan untuk selalu turun. Curah hujan yang cukup tinggi membuat wilayah ini cocok untuk beberapa tanaman pangan serta buah-buahan. Selain itu, keramahan warga dalam menerima tamu menjadi bukti akan kentalnya nilai budaya orang Cecer. Perpaduan dua unsure ini –alam dan budaya – menjadi magnet utama yang menarik wisatawan untuk datang ke kampung di lereng hutan Mbeliling ini.
Pada Selasa pagi, 9 November 2021 saya diterima dengan ramah oleh Heri di kediaman Pak Kristo. Heri adalah orang yang ditugaskan untuk mendampingi saya selama melakukan virtual tour untuk anak-anak Sekolah Dasar Cita Hati Surabaya di Kampung Cecer ini. Sebelum tour dimulai, saya disuguhkan segelas kopi hitam oleh Heri.
Sembari menyeruput kopi, kami berdiskusi untuk mengatur teknis rute virtual tour ini. Heri mengenakan kain songke, sementara itu, ‘Sapu’ melingkar rapi di kepalanya. Saya menyiapkan tongsis, power bank, dan handphone. Tak lama berselang, kami menuju gapura; tempat pertama di mana kami menerima dan menyapa para tamu virtual.
Saya dan Heri menyapa para peserta yang sudah bergabung di ruangan virtual. Sebagaimana tour yang biasa diadakan di Cecer, di pintu gapura tamu diterima secara adat. Penerimaan secara adat menggunakan seekor ayam jantan putih sebagi simbol ketulusan hati menerima tamu yang datang. Kali ini, Heri menjelaskan makna dari penerimaan itu sebagai upaya untuk mengusir dan menangkal energi-energi negatif yang mungkin datang bersama para tamu lalu mengundang energi positif lewat proses adat serta doa.
Saya menyorot kamera ke arah Heri yang sedang menjelaskan arti dan makna perimaan tamu dengan ayam jantan putih. Setelah menjelaskan, Heri mengundang peserta virtual untuk datang dan menyaksikan kehidupan masyarakat Kampung Cecer. Rute yang kami lalui setelah gapura adalah Mbaru Kalo.
Sepanjang rute, di kiri dan kanan jalan, berbagai jenis tumbuhan tumbuh dengan subur, di antaranya pohon kelapa, kemiri, papaya, rambutan, durian, dan bahkan mahoni. Menurut Heri, hal itu menunjukkan keuletan warga Cecer dalam mengelola lahan pertanian mereka.
Warga kampung Cecer berprofesi sebagai petani. Lahan pertanian terletak di sekitar pemukiman. Wisatawan yang datang dapat melihat keseharian mereka dalam mengerjakan kebun. Kebun dan rumah memiliki relasi yang saling terkait dalam siklus kehidupan. Ada tiga pusat utama yang melingkari kehidupan orang Cecer dan suku Manggarai secara umum. Tiga pusat itu adalah Mbaru Batȇ Ka’eng (Rumah), Uma Batȇ Duat (Kebun), dan Compang Batȇ Dari (Altar).
Berdasarkan relasi ini, rumah dan kebun menyokong kesejahteraan jiwa dan raga seluruh masyarakat. Ketika pesta syukur tahunan tiba, seluruh masyarakat berkumpul di Mbaru Gendang untuk menyampaikan syukur dan pujian kepada Tuhan dan leluhur. Beberapa hewan disembelih, darahnya diteteskan di Compang sebagai ekspresi syukur dan pujian kepada leluhur. Di saat yang sama, para lelaki memainkan tarian Caci. Para wanita menabuh gong dan gendang serta memainkan beberapa tarian yang lain.
| Kampung Wae Rebo |
Para peserta tour diantar ke Mbaru Kalo; miniatur rumah gendang suku Manggarai. Halaman Mbaru Kalo cukup luas. Di sudut kanannya terdapat Compang yang dibuat dari susunan batu alam yang besar. Mbaru Kalo berbentuk kerucut. Atapnya disusun dari ijuk. Dari luar halaman yang luas itu, Mbaru Kalo berdiri dengan megahnya.
Pada bubungannya terdapat ukiran tanduk kerbau. Mengapa menggunakan ukiran kepala kerbau? Pada saat pembagian lahan kebun, para tetua adat menyembelih seekor kerbau. Kepala kerbau itu ditaruh dititik pusat yang bernama lodok. Dari lodok inilah lahan pertanian dibagi hingga membentuk jarring laba-laba.
Sistem pembagian kebun berbentuk jarring laba-laba ini juga dipakai dalam arsitektur rumah gendang. Apabila ditelungkupkan, atap rumah gendang itu akan berbentuk seperti jarring laba-laba. Itulah sebabnya, di bubungan rumah itu ditaruh ukiran tanduk dan kepala kerbau. Saya dan Heri membawa para peserta tour itu menuju ke bagian dalam Mbaru Kalo.
Layaknya tuan rumah yang ramah, Heri menerima peserta tour virtualnya dengan senyum. Tikar telah digelar di lantai papan Mbaru Kalo. Heri menjelaskan arti ruangan Mbaru Kalo yang berbentuk lingkaran. Ruangan utama yang berbentuk lingkaran dan tanpa sekat itu merupakan simbol harmoni dan kolektivitas.
Tiang utama yang berada di tengah adalah simbol kepemimpinan. Tu’a Golo atau kepala kampung akan menempati posisi di tiang utama itu. Di hadapan peserta tour virtual, Heri mencoba menempati posisi duduk di tiang utama. Saya menyorot kamera ke arahnya.
Tiang utama dimbil dari kayu khusus dengan ukuran yang besar. Pengambilannya dari hutan diiringi dengan upacara khusus. Kayu itu pun lalu menjadi simbol ketegasan dan kebijaksanaan pemimpin.
Setelah menunjukkan sisi luar dan dalam Mbaru Kalo, saya dan Heri menunjukkan dapur yang terletak di sisi belakang Mbaru Kalo. Dapur selalu berdiri terpisah dari rumah utama. Di dalamnya terdapat tungku api dan perlengkapan masak yang lain. Nyala api dalam tungku adalah simbol kehangatan hidup.
Api yang selalu menyala menandakan kehidupan yang penuh gairah. Bagaimana caranya agar api kehidupan tetap menyala? Para lelaki dan perempuan harus mengerjakan kebun dengan sungguh-sungguh agar tanah memberikan hasil. Hasil panen seperti padi, jagung, dan ubi menjadi sumber pangan utama untuk masyarakat. Api yang menyala di tungku itu menandakan bahwa kebun telah memberikan hasilnya untuk kehidupan manusia.
Pada bagian akhir dari virtual tour ini, saya dan Heri menunjukkan ornamen-ornamen yang dipakai oleh para lelaki saat memainkan Tarian Caci. Ornamen itu digantung di ruang tamu rumah Pak Kristo. Kami meminta Pak Kristo menjelaskan nama dan fungsi dari perlengkapan tarian Caci. Ada Panggal (pelindung kepala), Nggiling (tameng), Koret (penahan pukulan), Larik (cemeti), Ndeki, dan Nggorong.
Peralatan ini digunakan oleh para lelaki untuk menujukkan keberanian dan ketangkasannya. Di halaman Mbaru Gendang, para lelaki akan saling memukul dan menangkis. Libasan cemeti yang menyobek kulit adalah simbol keperkasaan. Para lelaki akan bernyanyi, berpantun, sambil saling menghormati satu sama lain. Pak Kristo mengakhiri penjelasannya dengan mengajak para peserta untuk datang secara langsung ke Kampung Cecer untuk melihat alam dan budaya yang indah dan penuh pesona. *
Komentar
Posting Komentar