Langsung ke konten utama

Jacket Baru untuk Fransiska

Selembar kertas segi empat warna putih berubah jadi jimat di tanganku. Kertas ini adalah tiket pesawat yang akan membawaku ke Kupang sore ini

Seorang kawan menceritakan pengalamannya ketika ia untuk pertama kalinya datang ke kota Kupang. Sebelum tubuhnya yang kurus itu tercemplung ke kota karang itu, Kupang hanyalah sebuah kata yang dipenuhi impian: manakala suatu saat nanti ia bisa datang ke sana.  Pergi atau datang ke Kupang katanya adalah seperti rencana pergi ke planet lain yang dibaluri sejuta kemustahilan. “Apalagi pergi dengan naik pesawat...” ungkapnya dengan ditutupi sejumput senyum bangga di sekujur bibirnya. 

Kau tahu, aku hanya ingin membagikan kepadamu cerita kawan yang satu ini. Aku pun tidak ingin menambah sekalimat pun yang berusaha untuk merekayasa jalan pengalamannya selama ia datang ke Kupang. Karena aku tahu bahwa persahabatan itu harus dirawat dengan kejujuran. Aku tidak ingin masuk penjara atau neraka hanya gara-gara mencatut nama teman sendiri kepadamu. Aku tidak sudi.

***

Selembar kertas segi empat warna putih berubah jadi jimat di tanganku. Kertas ini adalah tiket pesawat yang akan membawaku ke Kupang sore ini. Sebagai jimat, tiket ini kupegang dengan kendali tubuh yang sempurna. Daripada hilang dan gagal ke Kupang, timbangku dalam sanubari. Di Bandara Franseda Maumere, aku benar-benar tahu bagaimana gereget jiwaku ingin terbang dengan pesawat. Meskipun baru-baru saja ada berita pesawat terbang jatuh dan semua penumpangnya tidak pernah lolos dari kematian. Pokoknya, aku ingin membuktikan cerita imajinasi ibuku saat masih kecil dulu. 

Source: http://www.dunia-irly.com/2018/01/lukisan-abstrak.html

Ibu pernah bilang, kalau kita naik kapal lelap (maksudnya pesawat terbang) dari atas langit kita bisa melihat rumah-rumah seperti tumbuhan jamur. Entah ibu dengar cerita ini dari mulut mana, aku tidak tahu. Ibu hanya lulusan sekolah dasar di kampung. Di sini kadang saya teringat akan kepolosan ibu saat bercerita kepada anaknya yang baru duduk di kelas dua sekolah dasar.

Di ruang tunggu aku duduk menyaksikan orang-orang yang lewat. Sedang aku sendiri mesti terpaku di bangku besi keperakan itu untuk menjaga dua karton besar berisi barang bawaan ke Kupang. Barang bawaan ini laiknya manusia balita yang mesti kujaga keselamatannya. Sesekali terdengar suara halus perempuan yang mengumumkan tanpa bosan nama pesawat, jam keberangkatan berikut nomor penerbangan yang asing sekali bagi kedua telingaku. 

Sebenarnya, aku ingin sekali membagi cerita dengan orang-orang di sekitar ruang tunggu ini. Tetapi aturan pergaulan di tempat seperti ini selalu mempertimbangkan: apa pentingnya  seseorang bagi orang lain. Tempat ramai kadang menjadi tempat tersepi di bumi. Jadi seperti seonggok patung aku duduk memikirkan pikiran-pikiranku sendiri di tengah ramainya lobi bandara ini.

 Begitu dramatis kemudian, tatkala nama pesawat yang akan kutumpangi disebut dengan lembut oleh perempuan pegawai bandara ini. Sejumlah orang berpamitan, berpelukan sebentar, mengucapkan kalimat entah apa dari mulut mereka. Dan akhirnya aku dan orang-orang itu disedot ke dalam pintu kaca yang sedang ditunggu oleh dua petugas yang memegang alat deteksi. Dengan demikian, aku mengucapkan selamat tinggal paling lirih kepada Nian Sikka tercinta. 

Aku meninggalkan bandara ini dengan perasaan yang tak ada dalam kamus. Begini rasanya: saat pertama kali kau mengalami atau melakukan sesuatu, ada tindihan-tindihan halus di palung dadamu. 

Gesekan di palung itu kadang membuat kau gembira juga cemas. Itulah perasaanku saat pintu pesawat Lion Air ini benar-benar dikunci rapat oleh si cantik pramugari. Seluruh badan dan jiwaku yang paling bebas sekalipun terkunci di dalam tabung yang sebentar lagi terbang di angkasa ini. Jujur, walaupun telah lama meninggalkan Tuhan, untuk saat ini dengan polos aku menyebutnya.  

Menit-menit yang lewat saat di udara adalah kumpulan waktu paling runyam dalam hidupku. Mengenang cerita ibu dan juga ketakutan pada ketinggian yang semakin tinggi. Karena itu, otakku gagal mengatur fungsinya. Selama di angkasa aku dicemooh oleh butir-butir ide ketakutan. Andaikan saya bisa meminjam tubuh orang lain selama setengah jam ke depan, sampai di Kupang akan saya kembalikan dengan imbalan sepantasnya.

***

Sampai di sini kau pasti sudah bisa menilai kawanku itu. Sengaja aku tidak sertakan ceritanya mengenai bagaimana riwayat tubuhnya saat tiba di bandara El Tari Kupang. Sebab saat beliau ceritakan bagian itu kepadaku, aku keringatan menahan tertawaku di dasar perut. Sampai-sampai aku mual dan memuntahkan segala kelucuan dan keluguannya itu di kamar mandi. 

Sebelum kuceritakan antusiasmenya saat terbiasa dengan hawa kota Kupang impiannya, aku ingin kau tahu bagaimana kami bersahabat. Sesuai dengan aturan manusia normal bahwa persahabatan itu tidak boleh mensyaratkan latar belakang apa pun. Bukan untuk terlihat lebih pintar dari persahabatan sekelompok lebah atau semut, tetapi aku ingin menunjukkan bahwa sesama manusia memang harus berelasi tanpa pamrih dengan yang lain. 

Kawanku ini memiliki tingkat keluguan jauh dari normal. Dan ini bisa ditolerir. Namun yang lebih parah, karena permintaan pacarnya untuk membeli jacket baru di Kupang, beliau setia menabung uang jajan kuliahnya hanya untuk membeli tiket pesawat dan jacket di kota Kupang.  Coba kalau ia cukup lihai, ia bisa membeli jacket itu di Maumere dan pura-pura bilang ke pacarnya kalau jacket itu ia beli di Kupang. Gampang kan? Tapi tidak gampang baginya sebab itu demi pacarnya. Dengan mengurungkan semua penilaian suyektifku terhadap beliau, kami pun bersahabat sampai kini.

***

Dengan sedikit pongah, aku menyebutkan dalam dinding status facebookku kalau aku sedang berada di kota dengan julukan kota kasih. Ide tentang Kupang itu dulu telah jadi nyata. Langit biru yang cerah. Gerombol angin pekat hambur dari ragam jurusan. Batu karang yang menampung panas memenuhi tanah yang belum dihinggap bangunan dan gedung setengah angkasa. Suatu kesempatan aku menanan benih rindu di pantai Ketapang. Kesempatan lain, kutinggalkan kenangan di Oesapa. 

Di jembatan Liliba kusemai lupa bersama cipratan air seni. Sebuah malam penuh gemuruh kusapa pedagang ikan di Oeba. Saat petani Oebufu merindu hujan, kurekam jerit lapar mereka. Ah, apalagi sebuah malam Minggu yang sunyi di Taman Nostalgia, kutelepon pacarku demi merampungkan jarak. Setelah mengobrol ngolor ngidul tentang kota kasih ia menuntut hadiahnya, “Nana, sudah beli jacket?” Dengan itu sebentar lagi akan kutinggalkan beberapa rupiah di Suba Suka untuk membeli jacket baru Fransisca.

***

“Jadi kau beli jacketnya?”

“Ya ialah! Masa tidak?

           Sambil menyeruput segelas kopi kami melepaskan senja itu pergi. Sementara itu Penfui adalah satu titik paling disegani oleh keramaian kota Kupang. Orang-orang datang dan pergi. Entah seperti apa makna sebuah kota di kepala mereka.

“Bung, kita semua adalah pesinggah di kota Kupang. Kita datang dan tak akan membawa pulang kota ini. Sebentar kita datang, sebentar kita pergi. Itu hakikat setiap pesinggah.” Ungkap kawanku itu sembari menandaskan seruput kopi terakhir. 

“Tetapi hanya ini yang bisa kubawa pulang selain kenangan di kepala: jacket baru untuk Fransiska,” tutupnya dengan lugu. 

***

Seperti telah kubilang, persahabatan kami langgeng hingga kini. Kawanku itu sekarang, menurut ceritanya via telepon, sedang menyiapkan acara pernikahannya dengan Fransisca. Jauh kemudian baru aku tahu bahwa ternyata jacket yang ia beli di Kupang itu dulu adalah ujian atas keseriusan cintanya kepada tunangannya Fransiska. Kadang aku bingung: apa hubungan mendalam antara cinta, Kupang, dan jacket? Edan! *

Atambua, Juni 2016.

 

Cerita ini pernah diterbitkan di Harian Pos Kupang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekasih Menulis Laut yang Sepi

Malam itu laut memenuhi pandangan kami. Luas laut adalah rahasia yang sebagiannya ditemukan para nelayan pesisir. ‘Nama laut itu adalah laut kesepian,’ katamu seperti berbicara sendiri. ‘Kenapa kesepian?’ Seolah pertanyaan itu keluar dari keingintahuan yang tidak beralasan. ‘Ia kesepian, sebab sungai tak kembali ke hulu alirannya.’ ‘Kan laut menguap jadi hujan?’ sanggahku. ‘Ia, tapi ia tetap rindu perjalanan-perjalanan aliran yang hanya sekali terjadi dalam hidupnya. Sekali berada di laut, kesepian adalah nasib yang pasti.’ Lama kami berbicara tentang laut. Tentang laut yang indah bila bulatan mentari mendaki di ujung cakrawala di pagi hari dan tenggelam di cakrawala barat saat senja. Tapi, laut juga menyimpan dendam yang hitam. Amukannya melenyapkan nyawa manusia. Ribuan nyawa tersapu badai tsunami. Ia menyebutnya sebagai paradoks laut. Ia menggetarkan sekaligus menghancurkan. Kontras yang mustahil ditampik. Laut itu semakin sepi di hadapan kami.    ‘Nama laut it...

Rancang Dari Bawah: Membaca Spirit Komunitas Literasi NTT

  Ini adalah catatan reseptif dan apresiatif setelah mengikuti Talk Show daring bersama beberapa komunitas literasi di Nusa Tenggara Timur di bawah tema “Budayakan Literasi, Cerahkan Masa Depan”. Kegiatan daring ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun perdana media Ngkiong.com ; sebuah media daring yang mewadahi buah pikiran inspiratif anak muda yang peduli pada nilai luhur yang hidup dalam masyarakat. Media ini berpusat di kota Ruteng - Manggarai.    Ada 5 komunitas yang membagikan pengalaman mereka selama berkomunitas di wilayah masing-masing. Komunitas itu antara lain Teras Baca Ile Napo dari Solor, NTT School dari Bajawa, Sekolah Alam Dyatame dari Sumba Barat Daya, Rumah Baca Aksara dari Ruteng, dan Ngkiong.com sendiri. Diskusi dipandu oleh Arsy Juwandi; guru di Seminari Pius XII Kisol. Keresahan dan Kegelisahan: Embrio Komunitas Narasumber dari masing-masing komunitas menceritakan alasan mereka membangun komunitas atas dasar keresahan dan kegelisahan me...