Langsung ke konten utama

Menjelajahi Kota Labuan Bajo dengan Walking Tour

Gerimis kecil mengguyur Labuan Bajo pada pagi 8 April 2021. Rombongan tour sudah berkumpul di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kampung Ujung. Tak berselang lama, butiran air hujan itu segera menjauh dan pelan-pelan hilang. Para penjual ikan dan pembeli telah memenuhi TPI sejak subuh. Kami dan rombongan berkumpul di sisi kanan gerbang. 

Para peserta Walking Tour mendengarkan narasi dari pemandu lokal

TPI menjadi titik kumpul sekaligus tempat pertama dalam program Walking Tour Jelajah Kota Lama Labuan Bajo. Di dalam jalur ini terdapat setidaknya lebih dari 10 titik yang akan dilalui peserta tour. Narasi dan cerita di setiap titik akan dijelaskan oleh pemandu. 

Titik-titik singgah itu di antaranya adalah Jalan Reklamasi, Jalan Mutiara yang di dalamnya termasuk GMIT Gunung Zalmon, Gereja Katolik Stella Maris, dan Masjid Nurul Falaq. Lalu kemudian Jalur Protokol yakni Jalan Soekarno Hatta, Pelabuhan Pelni, La Pirate, Artomoro Restaurant, Losmen Mutiara, dan Losmen Bajo serta beberapa bangunan pertokoan dan restoran di sekitar Kampung Air. Titik akhir dari rute ini adalah Puncak Waringin yang menjadi bagian penting dari wajah kota Labuan Bajo.

Walking tour ini merupakan penjelajahan perdana sekaligus uji coba peta jelajah dari program Aksilarasi Labuan Bajo dari subsektor Penerbitan. Peserta tour terdiri dari team editor buku dan peta yakni Mbak Gita, Mbak Iwid, dan Mbak Undan. Selain itu ada Dicky Senda yang sudah sejak inkubasi tahap I telah bersama-sama dengan para penulis lokal menggodok buku dan peta jelajah. 

Foto bersama di Puncak Waringin
Dalam inkubasi tahap II yang telah dimulai sejak tanggal 6 April 2021 yang lalu, para peserta bersama team editor akan fokus menyempurnakan karya hasil inkubasi I. Rangkaian kegiatannya berupa workshop, pelatihan, dan uji coba peta jelajah. Kegiatan-kegiatan ini dilaksanakan dengan intensif dan menuntut kehadiran penuh semua peserta.

Khusus peta Jelajah Jalur Kota Lama dipilih menjadi peta yang diuji coba untuk mengetahui kesesuaian informasi yang terangkum dalam narasi.  Narasi setiap titik harus diperjelas agar wisatawan atau pembaca mendapatkan informasi yang utuh tentangnya. Karena itu, dalam inkubasi II ini seluruh team dan peserta melihat kembali tulisan-tulisannya. 

Dua jam Walking Tour telah selesai. Team editor, team lokal, dan para peserta kembali ke penginapan masing-masing untuk menyiapkan diri melanjutkan agenda pelatihan hari ini. Semua berharap agar Labuan Bajo menjadi kota wisata super premium dengan narasi-narasi yang premium.*


 

 

Komentar

  1. Wah keren banget yang cuaca dan pemandangan di Labuan Bajo saudara

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekasih Menulis Laut yang Sepi

Malam itu laut memenuhi pandangan kami. Luas laut adalah rahasia yang sebagiannya ditemukan para nelayan pesisir. ‘Nama laut itu adalah laut kesepian,’ katamu seperti berbicara sendiri. ‘Kenapa kesepian?’ Seolah pertanyaan itu keluar dari keingintahuan yang tidak beralasan. ‘Ia kesepian, sebab sungai tak kembali ke hulu alirannya.’ ‘Kan laut menguap jadi hujan?’ sanggahku. ‘Ia, tapi ia tetap rindu perjalanan-perjalanan aliran yang hanya sekali terjadi dalam hidupnya. Sekali berada di laut, kesepian adalah nasib yang pasti.’ Lama kami berbicara tentang laut. Tentang laut yang indah bila bulatan mentari mendaki di ujung cakrawala di pagi hari dan tenggelam di cakrawala barat saat senja. Tapi, laut juga menyimpan dendam yang hitam. Amukannya melenyapkan nyawa manusia. Ribuan nyawa tersapu badai tsunami. Ia menyebutnya sebagai paradoks laut. Ia menggetarkan sekaligus menghancurkan. Kontras yang mustahil ditampik. Laut itu semakin sepi di hadapan kami.    ‘Nama laut it...

Jacket Baru untuk Fransiska

Selembar kertas segi empat warna putih berubah jadi jimat di tanganku. Kertas ini adalah tiket pesawat yang akan membawaku ke Kupang sore ini Seorang kawan menceritakan pengalamannya ketika ia untuk pertama kalinya datang ke kota Kupang. Sebelum tubuhnya yang kurus itu tercemplung ke kota karang itu, Kupang hanyalah sebuah kata yang dipenuhi impian: manakala suatu saat nanti ia bisa datang ke sana.   Pergi atau datang ke Kupang katanya adalah seperti rencana pergi ke planet lain yang dibaluri sejuta kemustahilan. “Apalagi pergi dengan naik pesawat...” ungkapnya dengan ditutupi sejumput senyum bangga di sekujur bibirnya.  Kau tahu, aku hanya ingin membagikan kepadamu cerita kawan yang satu ini. Aku pun tidak ingin menambah sekalimat pun yang berusaha untuk merekayasa jalan pengalamannya selama ia datang ke Kupang. Karena aku tahu bahwa persahabatan itu harus dirawat dengan kejujuran. Aku tidak ingin masuk penjara atau neraka hanya gara-gara mencatut nama teman sendiri kepadam...

Rancang Dari Bawah: Membaca Spirit Komunitas Literasi NTT

  Ini adalah catatan reseptif dan apresiatif setelah mengikuti Talk Show daring bersama beberapa komunitas literasi di Nusa Tenggara Timur di bawah tema “Budayakan Literasi, Cerahkan Masa Depan”. Kegiatan daring ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun perdana media Ngkiong.com ; sebuah media daring yang mewadahi buah pikiran inspiratif anak muda yang peduli pada nilai luhur yang hidup dalam masyarakat. Media ini berpusat di kota Ruteng - Manggarai.    Ada 5 komunitas yang membagikan pengalaman mereka selama berkomunitas di wilayah masing-masing. Komunitas itu antara lain Teras Baca Ile Napo dari Solor, NTT School dari Bajawa, Sekolah Alam Dyatame dari Sumba Barat Daya, Rumah Baca Aksara dari Ruteng, dan Ngkiong.com sendiri. Diskusi dipandu oleh Arsy Juwandi; guru di Seminari Pius XII Kisol. Keresahan dan Kegelisahan: Embrio Komunitas Narasumber dari masing-masing komunitas menceritakan alasan mereka membangun komunitas atas dasar keresahan dan kegelisahan me...